WAMENA, MJ News: Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), Gibran Rakabuming Raka pada hari ke-2 Kunjungan Kerja (Kunker) di Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, pagi sekitar pukul 08.22 WIT mengunjungi pasar Potikelek, Wamena. Dari kunjungan ini, Wapres Gibran menjumpai pedagang Orang Asli Papua (OAP) penjual sayur mayur, buah-buahan (hasil bumi), penjual noken, penjual ikan, penjual HP second dan lainnya, pada Rabu, 14 Januari 2026.
Wapres dan rombongan disambut oleh para mama-mama berseragam rompi warna oranye yang merupakan tenaga penyapu jalan dalam kota Wamena binaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayawijaya. Mereka menyambut Wapres dalam tarian dan lagu-lagu Etai (nyanyian kelompok) sepanjang jalan pintu masuk pasar Potikelek.

Berikutnya, Wapres Gibran menjumpai Ketua Pedagang Mama Papua di Pasar Potikelek, Mama Meri Walela yang telah berkumpul dengan para pedagang OAP. Dalam perjumpaan kurang dari 2 menit ini, Mama Walela menyampaikan 1 pertanyaan, dan beberapa permohonan.
Pertanyaan Mama Walela, Bapak selama ini datang ke Wamena tidak pernah masuk di pasar Potikelek, tapi sekarang anak bisa masuk ketemu kita Mama-mama pasar, jadi tujuan Bapak datang kenapa? Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Bapak Wapres bahwa “Saya tujuan datang kesini ketemu Mama-mama di Pasar Potikelek”.
Kemudian Mama Meri lanjut menyampaikan bahwa “kalau Anak Wakil Presiden datang untuk lihat kita, kami Mama-mama pasar butuh modal untuk melanjutkan usaha”, ujarnya.
Aspirasi lain oleh Mama-mama pasar Potikelek yang disampaikan Mama Walela adalah “pedagang luar Papua yang ada di Pasar Potikelek banyak mendatangkan barang, sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu dari luar Wamena. Hal ini berakibat pada hasil jualan mama-mama Papua tidak bisa laku cepat” terangnya.
Bagian ketiga dari penyampaian Mama Walela adalah “pasar Potikelek tidak ada lampu (penerangan) yang berakibat pada pencurian di malam hari. Selain itu, saat hujan deras air akan tergenang di area pasar. Maka kami minta bapak Wakil Presiden untuk memperhatikan penerangan (lampu yang rusak) dengan membenahi saluran air/selokan yang rusak untuk menghindari genangan air. Atau melaksanakan rehabilitasi pasar agar kelihatan lebih layak dari sekarang” lanjutnya.

Poin aspirasi keempat, Mama-mama pasar Potikelek meminta “penugasan anggota di Pasar Potikelek. Pos keamanan sudah ada tetapi tidak ada anggota yang menjaga di tempat. Harapannya agar semua proses jual beli di pasar Potikelek ini dapat berjalan dengan aman, tertib, rapih dan pembeli yang datang juga merasa nyaman”.
Terakhir, Mama Walela juga meminta kepada Bapak Wapres dan Pemerintah Daerah untuk menertibkan pasar, terutama pedagang pinang yang telah mengambil dua los pasar. Mama Walela berharap agar pemerintah menyiapkan tempat khusus untuk penjual pinang. Hal ini menurut Mama Meri penting karena banyak pedagang lokal yang berjualan diatas tanah kena panas, debu, hujan dan dingin. Lanjutnya, Pasar Potikelek, biar hanya oleh mama-mama Papua yang menjual hasil bumi setempat.
Mama Meri Walela berharap, dari sekian banyak aspirasi yang telah disampaikan langsung kepada Bapak Wapres, semoga ada sebagian yang dapat diakomodir. Dan sebagainya lagi, kami tetap meminta kepada pemerintah daerah dan provinsi untuk membantu menertibkan pasar Potikelek ini.
Tegas mama Meri, Pasar Potikelek sudah menjadi pasar utama di Jayawijaya dan Papua Pegunungan, jadi pemerintah daerah dan provinsi, mohon memberikan perhatian serius. Karena dari pasar ini kami dapat berjualan untuk kehidupan sehari-hari maupun biayai anak-anak sekolah. (MJ.MW) *

